Kamis, 27 September 2012

hari terakhir di negeri jiran


hari ini (jum'at, 28 September 2012) merupakan hari terakhir berada di PPZ (pusat pungutan zakat) Majelis Agama Islam Wilayah Perseketuan (MAIWP) Malaysia. Program Intership yang seharusnya magang kerja, menjadi agenda kunjungan dan studi banding mengenai pengelolaan dana zakat yang ada di negeri jiran ini.

Lima orang yang beruntung (gambar dari kiri ke kanan, Ery Bunyamin Gufron, Wilda Heryanti, Reisa Dara Rengganis, Yana Febrina dan saya) mendapatkan pengalaman dan pengetahuan yang luar biasa. Tak hanya mengenai zakat saja yang kami dapat disini, tapi sedikit pola hidup masyarakat kuala lumpur pada khususnya dan umumnya Malaysia.

merasa mempunyai utang jika tak berbagi pengalaman selama dua pekan berada di Malaysia ini, semoga saya dapat menginformasikan semuanya yang menarik, lucu, gila, dan tentu saja informasi untuk berbagi pengalaman.
mungkin jika harus dikriteriakan ada beberapa yang mungkin bisa dishare di setelah hidup sebentar di sini, diantaranya..
- PPZ adalah Perusahaan (perseroan terbatas) yang ditugaskan oleh Kerajaan untuk menghimpun dana zakat dari masyarakat di Wilayah Persekutuan (Kuala Lumpur, Putera Jaya dan Labuan). Sedangkan untuk pendistribusian kepada mustahik zakat, kerajaan memberikan mandat kepada Baitul Maal di Majelis Agama Islam Wilayah Persekutuan (MAIWP). dalam hal ini kerajan sangat besar pengaruhnya dalam menentukan kebijakan. Tak seperti di Indonesia yang lembaga Zakatnya menjamur di mana-mana. Belum bisa mengasumsikan mana yang lebih baik, karena kondisi sosial, budaya, ekonomi dan politik yang berbeda di masing-masing negara yang mempengaruhi perbedaan itu. but anyway, perlu perjuangan Ekstra untuk menampilkan kembali kekuatan zakat di Indonesia.
- Modernisasi serta gaya hidup masyarakat Kuala Lumpur yang masih pantas diacungi jempol hingga saat ini. transportasi yang rapih dan penataan fasilitas umum yang baik. ada sesuatu yang luar biasa yang saya temukan yang mungkin patut dicontoh di Indonesia yaitu "mengantri". Saya melihat di salah satu pemberhentian Bis di dekat Pasar Seni, orang-orang rela mengantri untuk naik bis, meski di sana tak ada pembatas ataupun petugas. Orang yang terakhir datang meskipun ia datang dari arah paling dekat dengan pintu masuk bis, namun ia rela berjalan lebih jauh ke belakang antrian. Untuk budaya antri di Indonesia, emm tak perlu diceritakan di blog ini sepertinya.
- kami bertemu dengan orang-orang Indonesia yang mencari nafkah di sini. bukan setahun dua tahun mereka berada disini tetapi sampai ada yang sudah berdomisili dan beranak pinak di sini. Meski puluhan tahun berada di Malaysia, beberapa dari mereka masih bangga dan mengakui kalau mereka adalah orang Indonesia. Darah yang mengalir dalam tubuhnya adalah sari pati tanah dari Indonesia. Namun kondisi kehidupan yang mengharuskan mereka untuk mencari hidup disini. pengalaman-pengalaman hidup mereka akan menjadi pelajaran bagi kami yang baru pertama kali singgah di negeri orang.
- Terakhir, hingga saat ini, meski hanya dua minggu di sini, kerinduan akan kampung halaman sangat besar. entah mengapa beberapa kemudahan yang ada tidak menggiurkan bagi kami untuk bercita-cita tinggal disini. Kami masih punya tugas untuk memperbaiki kondisi Negeri kami sendiri meski dimulai dari hal yang kecil.

semoga Allah memberikan peluang kepada kami untuk banyak belajar di beberapa negeri yang lain. Amin

Senin, 03 September 2012

dulu sempat menulis ini ketika hendak pergi meninggalkan kampus hijau tercinta...
(desember 2010)

Kawanku,
Ku titip salam buat Tuhan
Aku terlalu hina untuk menyampaikannya

Katakana pada-Nya
Pemimpin-pemimpin itu tersesat dalam kepentingan
Mereka berdalih aturan-aturan
Menekan
Menghunuskan perbedaan yang kian tajam

Kawanku,
Rumahku hijau nan gersang
Gelap, bak wisma tak bertuan
Sebercik cahaya yang mencerahkan
Kini hendak dipadamkan

Kawanku,
Ku titip salam buat Tuhan
Sampaikan pula aku kedinginan
Terasingkan
Tertiadakan

seneng banget denger lagu ini...

Kisah dari selatan jakarta - White Shoes & Couples Company (lyric)

Kisah dari selatan Jakarta

Ijinkan hamba menutur sebuah cerita
Yang terpenggal di selatan Jakarta
Bukan gegap gempita, serta baik buruk sarana
Tiada angan hampa penuh peluh ataupun nestapa

Ini kisah yang tak akan mungkin terlupa
Tanpa nuansa asmara dan cinta
Tak perlu ada rahasia, dusta bahkan tipu daya
Semua terasa hambar nampaknya

(jika gundah yang tuan rasa)
Jika gundah tuan rasa
Gulana harap sebuah makna
Ancam hamba 'kan disiksa, tak mengapa
(pun hamba tak kuasa menutur paksa maksa cerita Hamba tak ingin ada kecewa)


Hapus air mata, titisan duka lara
Jua hamba tak memelas dipuja

Derita dan buruk sangka, suka cita penuh tawa
Entah apapun hendak dikata
(jika gundah yang tuan rasa)
Jika gundah tuan rasa
Gulana harap sebuah makna
Ancam hamba 'kan disiksa tak mengapa


(jika ada yang bertanya, oh ini kisah tentang apa)
Maafkanlah hamba oh sungguhpun hamba tak kuasa
(baiknya duduk manis saja, simak hamba bercerita)
Dan tak perlu tuan tanya
Hamba tak akan pernah mampu untuk menjawabnya